Blog Details

Mengenal TKDN dari Manfaat, Sertifikasi, dan Cara Mendapatkannya

Seperti Apa E-Katalog Terbaru? Fungsi dan Alur Pengadaan Pemerintah Berdasarkan PerLKPP No. 2 Tahun 2026

E-Katalog terbaru pemerintah kini tidak lagi sekadar menjadi etalase digital untuk melihat dan membeli produk. Melalui PerLKPP Nomor 2 Tahun 2026, penyelenggaraan Katalog Elektronik mencakup pengelolaan katalog, pencantuman barang/jasa, Toko Daring, pelaksanaan E-purchasing, hingga pengawasan.

Bagi pihak pembeli seperti Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Pejabat Pengadaan, maupun pelaksana pengadaan lainnya, perubahan ini membuat pemahaman terhadap E-Katalog menjadi semakin penting. Pengguna tidak cukup hanya menemukan produk yang sesuai, tetapi juga perlu menentukan metode transaksi berdasarkan kebutuhan, kondisi pasar, waktu pemanfaatan, serta kompetensi pelaksana.

Apa Fungsi E-Katalog Terbaru dalam Pengadaan Pemerintah?

Secara sederhana, E-Katalog adalah bagian dari ekosistem digital pengadaan pemerintah yang digunakan untuk mencantumkan barang/jasa dan melaksanakan E-purchasing. PerLKPP No. 2 Tahun 2026 mengatur penyelenggaraan Katalog Elektronik secara lebih luas, termasuk Katalog Elektronik Nasional, Sektoral, Lokal, dan Katalog Elektronik oleh Institusi Lainnya.

Bagi instansi pemerintah, fungsi tersebut membuat E-Katalog menjadi salah satu instrumen untuk menjalankan transaksi secara digital dengan mekanisme yang lebih terstruktur. Barang/jasa yang tersedia dalam Katalog Elektronik pada prinsipnya wajib dilakukan melalui E-purchasing, dengan pengecualian sesuai kondisi yang ditetapkan dalam regulasi.

E-Katalog Bukan Sekadar Etalase Produk

Dalam praktiknya, pembeli pemerintah perlu melihat E-Katalog sebagai bagian dari keseluruhan proses pengadaan. Mulai dari memilih produk, mempertimbangkan metode transaksi, melakukan proses pembelian, hingga memastikan transaksi dapat dipertanggungjawabkan. Ruang lingkup penyelenggaraan Katalog Elektronik berdasarkan PerLKPP No. 2 Tahun 2026 meliputi:

  • Pengelolaan Katalog Elektronik.

  • Pencantuman barang dan jasa.

  • Pengelolaan Toko Daring.

  • Pelaksanaan E-purchasing.

  • Pengawasan dan pelaporan terkait Katalog Elektronik.

Dengan cakupan tersebut, kemampuan menggunakan E-Katalog perlu berjalan bersama dengan pemahaman terhadap proses dan ketentuan pengadaan.

Alur Pemilihan Metode E-Purchasing pada E-Katalog

Salah satu hal penting bagi pembeli adalah memahami bahwa metode transaksi tidak ditentukan hanya dengan melihat nilai paket. Materi Alatan Indonesia menekankan bahwa pemilihan metode perlu melihat kondisi nyata pengadaan agar keputusan yang diambil tetap efisien, efektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Periksa Metode yang Tersedia pada Kategori Produk

Langkah awal adalah memeriksa kategori barang/jasa yang akan dibeli dan melihat metode E-purchasing yang tersedia. Pengelola Katalog dapat menentukan metode yang tersedia untuk kategori tertentu, sehingga pilihan metode tidak selalu sama untuk setiap produk. Dalam PerLKPP No. 2 Tahun 2026, metode E-purchasing terdiri atas:

Metode

Karakteristik Umum

Pembelian Langsung

Transaksi langsung untuk barang/jasa yang memenuhi ketentuan metode tersebut

Negosiasi Harga

Transaksi yang memungkinkan dilakukan negosiasi pada aspek harga atau komponen biaya tertentu

Mini Kompetisi

Kompetisi antara penyedia yang memenuhi kondisi dan persyaratan untuk memperoleh penawaran terbaik

Ketiga metode tersebut merupakan bagian dari pengaturan E-purchasing dalam PerLKPP No. 2 Tahun 2026.

Analisis Kondisi Pasar dan Kebutuhan

Setelah melihat metode yang tersedia, pembeli perlu menilai kondisi pasar dan kebutuhan sebenarnya. Pertimbangannya dapat mencakup jumlah penyedia, ketersediaan produk, kesesuaian spesifikasi, tingkat persaingan, serta kondisi harga.

Waktu kebutuhan juga menjadi faktor penting. Instansi perlu memperhatikan urgensi pengadaan, kapan produk akan digunakan, serta apakah penyedia mampu memenuhi waktu pengiriman atau layanan yang dibutuhkan. Pertanyaan praktis yang dapat digunakan dalam tahap analisis antara lain:

  • Seperti apa kondisi pasarnya?

  • Apakah produknya standar atau membutuhkan spesifikasi kompleks?

  • Apakah terdapat layanan atau komponen yang perlu dinegosiasikan?

  • Apakah produk dapat dibandingkan secara objektif?

Pendekatan tersebut membantu pembeli menentukan metode berdasarkan kondisi pengadaan, bukan semata-mata karena nilai transaksi.

Tentukan Pelaksana Sesuai Kewenangan dan Kompetensi

Pemilihan metode juga perlu mempertimbangkan pihak yang akan melaksanakan proses pengadaan. PPK, Pejabat Pengadaan, maupun Pokja Pemilihan memiliki peran dan kewenangan masing-masing sesuai konteks pengadaan dan ketentuan yang berlaku.

Selain kewenangan formal, kompetensi dan ketersediaan sumber daya juga perlu diperhatikan. Metode yang dipilih harus dapat dilaksanakan oleh pihak yang memiliki kemampuan memahami proses, menjalankan sistem, dan mempertanggungjawabkan hasilnya.

Tetapkan Metode yang Dapat Dipertanggungjawabkan

Setelah seluruh faktor diperiksa, pembeli dapat menentukan metode E-purchasing yang paling sesuai. Prinsipnya bukan mencari metode yang sekadar paling murah atau paling cepat, tetapi metode yang paling relevan dengan kebutuhan dan kondisi nyata pengadaan.

PerLKPP No. 2 Tahun 2026 memang menempatkan pemilihan metode E-purchasing sebagai bagian dari penyelenggaraan Katalog Elektronik, dengan tiga metode utama berupa pembelian langsung, negosiasi harga, dan mini kompetisi.

Tantangan Pembeli dalam Implementasi E-Katalog

Perubahan mekanisme digital membuat pembeli pemerintah perlu memiliki pemahaman yang lebih terintegrasi antara regulasi, kebutuhan pengadaan, sistem, dan proses transaksi. Kesalahan memilih metode atau kurang memahami karakteristik transaksi dapat membuat proses pengadaan menjadi kurang optimal.

Terlebih lagi, PerLKPP No. 2 Tahun 2026 baru menggantikan PerLKPP No. 9 Tahun 2021 dan memperluas pengaturan Katalog Elektronik hingga aspek pengelolaan dan pelaksanaan E-purchasing. Karena itu, pengguna E-Katalog perlu memperhatikan beberapa aspek berikut:

  • Memahami regulasi terbaru dan perubahan mekanisme.

  • Menganalisis kebutuhan sebelum memilih metode transaksi.

  • Memahami fitur dan alur E-Katalog yang digunakan.

  • Memastikan proses dapat dilaksanakan secara efisien dan akuntabel.

  • Menyesuaikan keputusan dengan kondisi pasar dan kompetensi pelaksana.

Tingkatkan Kompetensi Pengadaan melalui Bimbingan Teknis Alatan Indonesia

E-Katalog terbaru perlu dipahami bukan hanya sebagai platform pembelian, tetapi sebagai bagian dari proses pengadaan pemerintah yang memiliki aturan, metode, dan tanggung jawab masing-masing. Dengan pemahaman yang tepat, PPK dan pelaksana pengadaan dapat menentukan metode transaksi berdasarkan kebutuhan nyata sekaligus menjaga proses tetap efektif, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi instansi yang menangani pengadaan sektor kesehatan, pemahaman tersebut menjadi semakin relevan karena kebutuhan alat kesehatan dan farmasi memiliki karakteristik produk dan persyaratan yang perlu diperhatikan secara khusus. Melalui Bimbingan Teknis Alkes dan Farmasi Alatan Indonesia pada 7–8 Oktober, peserta dapat memperdalam pemahaman mengenai pengadaan sektor kesehatan, regulasi terkait, serta penerapannya dalam proses pengadaan pemerintah.


Daftar Sesi Bimbingan Teknis TKDN Farmasi & Alkes Sekarang Juga!

*Kuota terbatas untuk instansi pemerintah dan pelaku usaha pilihan.