Blog Details

Mengenal TKDN dari Manfaat, Sertifikasi, dan Cara Mendapatkannya

Contoh Perhitungan TKDN untuk Produk Farmasi dan Alkes Sesuai LKPP No. 2 2026

Adanya contoh perhitungan TKDN membantu perusahaan melihat bagaimana kandungan dalam negeri suatu produk diterjemahkan menjadi nilai persentase. Bagi perusahaan swasta sektor kesehatan, terutama produsen farmasi dan alat kesehatan (Alkes), cara menghitungnya tidak bisa disamakan karena karakter industri dan komponen penilaiannya memang berbeda.

Untuk sektor farmasi, Permenperin No. 16 Tahun 2020 membagi pembobotan ke dalam bahan baku, penelitian dan pengembangan, produksi, serta pengemasan. Sementara itu, Alkes menggunakan pendekatan berbasis biaya melalui aspek manufaktur 80% dan aspek pengembangan 20%. kedua ketentuan sektoral tersebut masih dinyatakan tetap berlaku dalam Permenperin No. 35 Tahun 2025.

Bagaimana Contoh Perhitungan TKDN untuk Farmasi dan Alkes?

Perbedaan metode menjadi hal pertama yang perlu dipahami sebelum perusahaan melakukan self-assessment. Contoh berikut merupakan simulasi sederhana untuk membantu memahami logika pembobotannya, bukan pengganti lembar kerja dan proses verifikasi resmi Kementerian Perindustrian.

Contoh Perhitungan TKDN Produk Farmasi

Pada Permenperin No. 16 Tahun 2020, nilai TKDN produk farmasi dihitung berdasarkan empat komponen dengan bobot bahan baku 50%, penelitian dan pengembangan 30%, proses produksi 15%, serta proses pengemasan 5%. Peraturan tersebut juga menyatakan penghitungan dilakukan melalui self-assessment oleh perusahaan industri farmasi berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Misalnya, sebuah perusahaan farmasi melakukan simulasi dengan capaian kandungan dalam negeri sebagai berikut:

Komponen

Bobot

Capaian KDN Simulasi

Kontribusi

Bahan baku

50%

70%

35%

Penelitian & pengembangan

30%

80%

24%

Proses produksi

15%

90%

13,5%

Pengemasan

5%

100%

5%

Total TKDN

100%


77,5%

Maka simulasi sederhananya adalah (50% × 70%) + (30% × 80%) + (15% × 90%) + (5% × 100%) = 77,5%. Angka tersebut menunjukkan bagaimana kontribusi setiap komponen dijumlahkan, tetapi nilai resmi tetap bergantung pada data, kriteria, dan pemeriksaan yang berlaku pada produk yang diajukan.

Contoh Perhitungan TKDN Alat Kesehatan

Untuk Alkes dan Alkes Diagnostik In Vitro, Permenperin No. 31 Tahun 2022 menggunakan pendekatan akumulasi KDN yang mewakili biaya produksi satu satuan produk. Bobot utamanya terdiri dari aspek manufaktur 80% dan aspek pengembangan 20%. 

Misalnya, sebuah perusahaan Alkes memperoleh capaian simulasi 75% untuk material langsung, 100% untuk tenaga kerja langsung, dan 80% untuk factory overhead. Nilai aspek manufaktur dihitung terlebih dahulu:

(75% × 80%) + (100% × 10%) + (80% × 10%) = 78%

Selanjutnya, misalkan aspek pengembangan perusahaan menghasilkan KDN simulasi sebesar 61%. Permenperin No. 31 Tahun 2022 membagi aspek pengembangan ke dalam tenaga kerja 40%, alat kerja 30%, bahan dan/atau purwarupa 20%, serta legalitas 10%. Dengan demikian, nilai TKDN total dapat disimulasikan:

(78% × 80%) + (61% × 20%) = 74,6%

Perlu diperhatikan, angka 75%, 100%, 80%, dan 61% di atas hanya contoh untuk menunjukkan cara kerja pembobotan. Dalam pengajuan aktual, masing-masing komponen harus ditelusuri berdasarkan dokumen dan kondisi produksi perusahaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Perbedaan Komponen yang Mempengaruhi Nilai TKDN

Dari dua simulasi tersebut, terlihat bahwa perusahaan tidak cukup hanya menghitung berapa banyak bahan lokal yang digunakan. Setiap sektor memiliki struktur penilaian yang berbeda, sehingga perusahaan perlu memetakan proses produksinya sebelum menentukan strategi peningkatan TKDN.

Farmasi Lebih Menekankan Bahan Baku dan Pengembangan

Pada farmasi, bahan baku memiliki bobot 50%, sementara penelitian dan pengembangan menyumbang 30%. Permenperin 16/2020 bahkan memecah penilaian bahan baku aktif dan tambahan dengan kriteria tersendiri, sehingga sumber dan karakter bahan yang digunakan harus diperiksa secara detail. Karena itu, perusahaan farmasi sebaiknya memperhatikan:

  • sumber bahan baku aktif dan bahan tambahan;

  • aktivitas penelitian dan pengembangan di dalam negeri;

  • tahapan produksi;

  • proses pengemasan;

  • bukti pendukung setiap komponen.

Alkes Menggabungkan Manufaktur dan Pengembangan

Pada Alkes, 80% bobot berada pada aspek manufaktur, sedangkan 20% berasal dari aspek pengembangan. Aspek manufaktur sendiri terdiri atas material langsung, tenaga kerja langsung, dan factory overhead, sementara pengembangan mencakup tenaga kerja, alat kerja, bahan/purwarupa, dan legalitas.

Struktur tersebut membuat perusahaan perlu melihat pabrik dan aktivitas R&D sebagai satu ekosistem. Perubahan sumber material, pola produksi, penggunaan tenaga kerja, hingga investasi pengembangan dapat memengaruhi hasil self-assessment.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengajukan Sertifikasi TKDN

Walaupun simulasi terlihat sederhana, proses sebenarnya membutuhkan data yang jauh lebih rinci. Permenperin No. 35 Tahun 2025 kini menjadi kerangka umum sertifikasi TKDN dan BMP, sementara aturan sektoral tertentu tetap dapat digunakan untuk barang yang memang memiliki ketentuan penghitungan khusus. Sebelum melakukan pengajuan, perusahaan sebaiknya:

  • memetakan komponen produksi dan sumbernya;

  • menyiapkan data biaya serta dokumen pendukung;

  • memastikan data self-assessment konsisten dengan kondisi aktual;

  • memahami metode yang berlaku untuk kategori produknya;

  • menyiapkan perusahaan menghadapi proses verifikasi.

Untuk Alkes, misalnya, regulasi mengatur bahwa KDN bahan langsung, tenaga kerja, dan factory overhead ditelusuri berdasarkan ketentuan masing-masing. Proses verifikasi juga membutuhkan kesesuaian antara data yang diajukan dengan kondisi perusahaan dan produk yang dinilai.

Perkuat Perhitungan TKDN Bersama Alatan Indonesia

Itulah contoh perhitungan TKDN yang dapat membantu perusahaan memahami posisi awal produknya, tetapi simulasi internal belum tentu sama dengan hasil sertifikasi resmi. Perbedaan metode sektor, klasifikasi komponen, kualitas dokumen, dan hasil verifikasi dapat memengaruhi nilai akhir yang diperoleh.

Alatan Indonesia menyediakan layanan pendampingan sertifikasi TKDN untuk membantu perusahaan mempersiapkan proses penghitungan dan dokumentasi secara lebih terstruktur. Pendampingan dapat diarahkan pada pemetaan komponen, pemeriksaan kesiapan data, hingga persiapan perusahaan menghadapi proses verifikasi sesuai mekanisme yang berlaku.

Bagi perusahaan farmasi dan Alkes yang sedang menargetkan pasar pemerintah, memahami angka TKDN saja belum cukup. Pastikan metode, data, dan dokumen perhitungan produk Anda sudah dipersiapkan dengan tepat bersama Alatan Indonesia sebelum masuk ke proses sertifikasi.